November 6th, 2007
2 comments
Tiap-tiap banjar dua kali belok kanan……………………
Ngomongin soal tonti, di postingan sebelumnya adik saya udah nulis pandangannya tentang tonti, sekarang giliran saya. Dulu waktu SMU saya ikut (baca, kepaksa) tonti. Pada waktu abis selesai Tjakra, nama saya kok dipanggil disuruh ke lapangan basket. Apa salah saya ? pikir saya. Di hati sebenarnya saya sudah menduga ini pasti ada sangkut pautnya dengan tonti.
Sebenarnya ada dua ekstra yang kita tidak bisa menolah ketika udah terpilih. TSC (teladan science club) dan Tonti. Pikiran saya waktu itu beruntunglah mereka yang ikut TSC, celakalah mereka yang ikut Tonti. Apalagi Tonti di sekolah saya termasuk langganan juara. dan kata pelatihnya Tonti adalah prestige-nya Sma siji.
Berangkatlah saya ke lapangan basket, seperti biasa dibagi dalam kelompok-kelompok, dan disuruh berbaris. Pada waktu itu sudah tak jelek-jelekin barisnya.
Waktu pun berlalu..pagi hari, di sekolah saya temukan nama saya tercatat sebagai calon anggota Tonti angkatan 2002. Di dalam pikiran ini udah terbayang latihan terus sampai PPI dimulai
PPI : adalah Purna Paskibraka Indonesia, lomba PPI diadakan oleh PPI (ya iyalah), pada waktu bulan september / oktober, diikuti Tonti seluruh DIY, biasanya bertempat di Balaikota, dan Among Rogo (yang sekarang masih rusak).
Terbayang pelajaran bakal terganggu (dan emang iya, ulangan pertama pak Sidhi, dapat nilai 2 hiks). Diberi nasihat oleh orangtua “semua ada hikmahnya, dijalanin aja”. Dan saya waktu itu memang polos sekali, dan manutan (normatif). Akhirnya ikutan Tonti, walaupun tidak ikut pengukuhan hehehe (mosok digojlog).
Yang saya dapatkan dari Tonti
- Kulit jadi hitam, gosong, saya kan aslinya putih
- cuapek luar biasa, la wong pulang dari sekolah jam 5, sampai rumah jam 6, mau belajar udah ngantuk
- Niali olahraga selalu bagus (kan pembimbing tonti guru olahraga)
- banyak teman
Sebenarnya Tonti nggak berkesan banget buat saya, kesan yang paling mendalam itu ya capek, push up dll. Padahal saya nggak cocok dengan kedisiplinan, Anti malah. Saya udah bilang sama Bogi, “Ngomong-o karo pelatih mu, Mas aku itu nggak suka ikut tonti, Males, Nggak niat, sesuatu kalau nggakniat akan menghasilkan yang jelek dst” tapi kayaknya sama bogi/wednes nggak berani ngomong hehe.
Saya pernah dengan seorang kepala sekolah bilang bahwa Tonti itu adalah prestige sekolah, jadi kalau menang Tonti nama sekolah ikutan terangkat. Kata saya (dalam hati tentunya) Prekkkk!!! Ada orang yang suka dikerasin (didisiplinkan), tetapi ada orang yang anti didisiplinkan seperti saya, dan mungkin adik saya. Orang yang suka dikerasin (mungkin kecenderungan masochism kali), mereke setiap diperlakukan kasar suka, tidak mengeluh, kenapa? karena mereka menikmati. Untuk orang yang anti dikerasin ya jelas nggak suka. Di dalam hati ini rasanya tertekan luar biasa. Jadi mungkin kedepannya harus di tes dulu mana yang termasuk masochism, mana yang tidak. Yang masochism bisa diterima tonti.
Mosok gara-gara nama sekolah, harus mengorbankan perasaan, pikiran dan mungkin masa depan seorang anak!!
Andaikata saya bisa mengulangi waktu saya akan mundur dari Tonti pada saat ditanya mas Faqih, sudah mantep masuk Tonti? saya akan jawab Tidak!!!
Popularity: 10% [?]

diskusi